Skip to main content

Posts

Menjelang Maghrib

Saya sampai di depan rumahnya, sekitar lima menit menjelang adzan maghrib. Buku yang saya pinjam rencananya akan saya kembalikan karena dia sudah memintanya. Saya nyalakan hp dan mulai menghubunginya dan mengatakan kalau saya sudah di depan. Rumahnya tertutup rapat, hingga saya harus melakukannya. 10 menit berselang dia menjawab pesan saya dan membukakan pintu. Saya pun masuk ke rumahnya. Bersua dengan gadis dewasa yang tampak lusuh sehabis memasak. Sederhana. Itu kesan saya ketika melihat parasnya. Ia mengenakan jilbab dan celana jeans terusan ke baju. Entah apa sebutannya. Pakaian wanita memang selalu rumit. Saya duduk dan menyerahkan buku itu, sebuah novel karangan seorang “ning” dari pondok pesantren daerah Magelang. Ia masuk kedalam mempersiapkan sesuatu, meminta saya untuk menunggu sejenak. Sembari menunggu mata saya menjelajah isi ruang tamu rumahnya. Tak banyak yang bisa dilihat, hanya beberapa lukisan kota Mekkah dan sisanya dinding warna orange. Ia keluar dengan segelas minum...

Move on

Tahun 2017-2018 saya pernah jatuh cinta dengan seorang gadis. Gadis yang lebih muda dari saya. Berawal dari perhatiannya kepada saya, perlahan ketertarikan itu mulai muncul. Kami, saat itu intens sekali ngobrol. Bahkan sesekali saya berkunjung ke rumahnya. Komunikasi yang intens tersebutlah yang memupuk harapan saya semakin menjadi-jadi. Saya mulai membangun persepsi tentang gadis tersebut. Bagaimana dia nanti, perasaan dia terhadap saya, serta jenjang-jenjang berikutnya dalam kehidupan kami. Saat itu saya yakin sekali kalau dia juga suka kepada saya. Mengapa saya begitu yakin? Karena adanya interaksi dua arah dari dia dan juga saya.  Namun, kenyataan berkata lain. Ada lelaki lain ternyata di kehidupannya. Saat dia memutuskan untuk memilih lelaki lain tersebut. Saya benar-benar kalut, baru pertama rasanya saya merasakan hal tersebut, sakit yang sampai saat ini masih teringat dengan jelas di ingatan saya. Perjalanan yang memberikan bekas begitu mendalam di hati saya. Saya membenciny...

Selepas Maghrib

Selepas shalat maghrib, saya membuka facebook. Mencari cari barang di market place, siapa tau ada yang jual harga miring karena efek pandemi ini. Kebiasaan ini sudah saya lakukan selama beberapa bulan terakhir. Bagi saya barang "second" masih menarik asal kita jeli dan tau akan kondisi barang tersebut. Hampir semua jenis barang. Mengapa? Umumnya orang-orang membeli barang karena hasrat mereka, padahal belum tentu mereka benar-benar butuh saat itu atau belum tentu juga akan berfungsi selamanya. Rasa bosan dan kebutuhan yang mendesak menjadikan barang bagus bisa jadi dijual dengan harga murah. Ayah saya baru saja mendapatkan gitar dan bass elektrik dari temannya waktu sekolah secara gratis, alasannya adalah barang tersebut sudah tidak di pakai lagi.  Entah kenapa hasrat untuk membeli atau membelanjakan sesuatu selalu saja susah untuk ditolak. Meski beribu teori tentang kemanfaatan menghemat ada, namun realitanya selalu saja kita kalah dengan hasrat kita. Bicara realita, pandemi...

Ngomongin Takdir

Takdir emang ngga ada yang tau, mau nebak juga ngga mungkin. Jodoh, rizki sama mati, susah ditebak. Yang gampang nebak nominal gaji. Soalnya masoh karyawan. Siapa juga yang nyangka bakalan sampe di fase ini. Kerja di kampus sebagai pelaksana, teknisi, admin yang kerjaanya gado-gado. Nyampur jadi satu. Kuliah yang udah masuk semester 7, jodoh yang begitu-begitu saja belum tau.  Meski gitu, ada banyak pelajaran sih yang bisa didapet. Satu, nyari pacar susah. Dapet pacar takut dosa, langsung ngajak nikah ngga ada yg mau, kata ibuk, pasti langsung kaget lah kalau cewe diajakin nikah. Ada benernya sih. Dua, urusan kerjaan gausah disangkutin sama penilaian pribadi seseorang. Kerja ya kerja, dah gosah disangkutin. Idup udah ruwet, lu pake nyampurin kerjaan sama masalah pribadi. Tiga, mumpung masih jomblo sayangi keluarga lu, mereka yg mau senantiasa hadir dihidup lu. Empat, nyari temen juga susah kalau usia segini. Udah pada sibuk sama temen kerjanya yg baru. Dari situ juga, s...

Berbuat Baik, Sebaik Mungkin

Opini kali ini, judulnya tentang berbuat baik; sebaik mungkin. Tadi malem, saya ngaji di salah satu majlis. Kata ustadznya, ada maqalah yang bilang kek gini. " Kalau kamu muliakan orang alim, sejatinya kamu sedang memuliakan dirimu sendiri".  Kemarin, saya juga ngelakuin suatu hal yang udah maksimal tapi cuma dapet apresiasi minimal dari atasan. Seringkali dalam kehidupan hal tersebut terjadi. Kita ngebelain ngelembur, kerjain mati-matian, serius melakukan yang terbaik, tapi dapet apresiasi yang minim dari orang lain. Manusiawi sih. Sangatlah wajar kalau kita udah ngelakuin suatu pekerjaan dengan maksimal dan kita juga ngarep apresiasi yang setimpal dari orang lain. Ngarep itu kan udah jadi rutinitas keseharian buat kita, kenapa? Karna kita niatnya dari awal keliru.  Saya kadang ngrengeng-ngrengeng atau membayangkan beberapa hal yang saya lakukan dulu. Dulu waktu kerja di pabrik, saya sebagai anak yang baru lulus, shock betul waktu itu. Dapet kerjaan yang modalnya...

Penerapan Psikologi

Saya mengerti, bagi yg belajar filsafat maka pelajaran filsafat adalah yg paling penting. Bagi orang arsitek, pelajaran mengenai arsitek pasti penting. Pun bagi orang lain. Setiap orang punya "hal yang dianggap penting" menurut mereka sendiri. Ya, menurut mereka sendiri. Bagaimana saya bisa tau? Psikologi. Jika di era 4.0 ini teknologi AI dikedepankan atau didewakan dan dianggap akan menjadi sebuah terobosan hebat. Maka psikologi sudah memulai apa yang diangankan tersebut. Psikologi, berasal dari 2 kata. Yakni psyche yang maknanya jiwa dan logos yang maknannya ilmu atau pengetahuan. Jadi jika dilihat dari arti katanya, maka psikologi berarti ilmu jiwa. Kata dosen saya, berhubung jiwa ini abstrak, maka psikologi mempelajari manifestasi dari gerak, kehendak, maksud dari jiwa tersebut yang berwujud sebuah perilaku. Singkatnya, psikologi mempelajari sebuah perilaku. Perilaku yang bisa diamati ini di riset oleh berbagai orang yang kurang kerjaan atau sering kita pang...

Diskusi kecil

Pagi ini ada diskusi kecil dengan ibu. Topiknya tagihan bulanan. Kami membicarakan teknis bagaimana kami bisa menbayar tagihan yang harus kami keluarkan tiap bulan. Jujur entah beruntung atau tidak. Saya harus terbiasa dengan ini. Hidup ngga melulu tentang postingan di IG, feed atau status di facebook, yang bahkan terkadang membuat hidup kita jauh lebih ribet. ada penguatan positif yang kita dapet tapi hal negatif yang ngga nampak juga banyak. Dari diskusi itu, I realize bahwa saya udah gede. Harus tanggung jawab lebih, berani nentuin pilihan, dalam berbagai hal. Dan yang terpenting, hindari segala hal yang memicu anda untuk tidak bahagia atau bersyukur. Nowadays , IG memberi sumbangsih yang signifikan untuk ketidakbahagiaan saya. Kenapa? Karena IG membuat saya ketagihan. Terdengar lebay barangkali. Tapi itu yang saya rasakan. Konten-konten tidak sehat bagi mata dan hati. Feed IG yang membuat saya iri, baik sengaja atau tidak dan lain sebagainnya. Cerita kali ini bukan tentang IG...